<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>vatikan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/vatikan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "vatikan"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 06:05:18 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Vatikan lehnt Botschafter wegen Homosexualit&auml;t ab]]></title>
<link>http://palisadesberlin.wordpress.com/?p=1045</link>
<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 20:33:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>palisadesberlin</dc:creator>
<guid>http://palisadesberlin.hu.wordpress.com/2008/10/02/vatikan-lehnt-botschafter-wegen-homosexualitt-ab/</guid>
<description><![CDATA[Wie krank ist das bitte?
Und das von der größten transnationalen Schwulenorganisation der Welt.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wie krank ist das bitte?</strong></p>
<p>Und das von der größten transnationalen Schwulenorganisation der Welt.&#160; Ja, ich meine die katholische Kirche! Die übrigens erst mal vor der eigenen Türe kehren sollte!!!</p>
<p><img style="display:inline;margin:0 15px 5px 0;" title="jean-loup-kuhn-delforge_434535_M" border="0" alt="jean-loup-kuhn-delforge_434535_M" align="left" src="http://palisadesberlin.files.wordpress.com/2008/10/jeanloupkuhndelforge-434535-m.jpg" width="75" height="91" /> Frankreich kann den von Staatspräsident Nicolas Sarkozy ausgewählten Botschafter für den Vatikan nicht entsenden, da Papst Benedikt XVI wegen der Homosexualität des Diplomaten sein Veto eingelegt hat. [<a target="_blank" href="http://www.queer.de">weiter bei www.queer.de</a>]<img style="display:inline;margin:5px 0 0 15px;" title="papst" border="0" alt="papst" align="right" src="http://palisadesberlin.files.wordpress.com/2008/10/papst.jpg" width="150" height="100" /></p>
<p>Extrem lesenswert - die Kommentare der User auf queer.de</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[10 Gebote, Moral und Bürokratie]]></title>
<link>http://tomswochenschau.wordpress.com/?p=1685</link>
<pubDate>Wed, 01 Oct 2008 19:59:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>tom</dc:creator>
<guid>http://tomswochenschau.hu.wordpress.com/2008/10/01/10-gebote-moral-und-burokratie/</guid>
<description><![CDATA[Die 10 Gebote Gottes enthalten 279 Wörter, die amerikanische Unabhängigkeitserklärung enthält 30]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Die 10 Gebote Gottes enthalten <strong>279 Wörter</strong>, die amerikanische Unabhängigkeitserklärung enthält <strong>300 Wörter,</strong> die Verordnung der Europäischen Gemeinschaft über den Import von Karamelbonbons aber exakt <strong>25911 Wörter</strong>!</p>
<p>Auf SPON entdeckte ich soeben die <a href="http://www.spiegel.de/auto/aktuell/0,1518,489494,00.html"> 10 Gebote für Autofahrer</a>, ein vom Vatikan herausgebrachter christlicher Verhaltenskodex. Dort heißt es im 5.Gebot:</p>
<blockquote><p>
Autos sollen kein Ausdruck von Macht oder Dominanz sein und keine Mittel zur Sünde.
</p></blockquote>
<p>Papst Johannes Paul II fuhr als Papamobil einen Mercedes ML430 mit 279PS.<br />
Für Papst Benedikt XVI. wurde eigens ein "standesgemässes", bayerisches Automobil angeschafft: Ein BMW X5dikt XVI. </p>
<p>Ehrlich gelebtes Christentum und Kapitalismus passen nicht zueinander, katholische Kirche und Doppelmoral anscheinend schon.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pesan Vatikan Untuk Akhir Ramadhan Idul Fitri 1429H/ 2008 AD]]></title>
<link>http://pormadi.wordpress.com/?p=502</link>
<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 05:28:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>pormadi</dc:creator>
<guid>http://pormadi.hu.wordpress.com/2008/09/23/pesan-vatikan-untuk-akhir-ramadhan-idul-fitri-1429h-2008-ad/</guid>
<description><![CDATA[



Pesan Untuk Akhir Ramadhan Idul Fitri 1429H/ 2008 AD




Dewan Kepausan Untuk Dialog Antarumat B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="10" cellpadding="5" width="100%" bgcolor="#ffffff">
<tbody>
<tr>
<td>
<h2>Pesan Untuk Akhir Ramadhan Idul Fitri 1429H/ 2008 AD</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">Dewan Kepausan Untuk Dialog Antarumat Beragama</p>
<p align="center">Kristiani dan Muslim:<br />
Bersama demi Martabat Keluarga</p>
<p align="center">Pesan Untuk Akhir Bulan Ramadhan<br />
Idul Fitri 1429H/ 2008AD</p>
<p>Saudara-saudari Umat Muslim,</p>
<p>1.        Dengan semakin mendekatnya akhir bulan Ramadan, dan mengikuti tradisi yang kini sudah sangat mapan, dengan senang hati saya menyampaikan ucapan selamat dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama. Selama bulan ini orang-orang Kristiani  yang akrab dengan Anda telah turut mengambil bagian dalam refleksi dan dalam perayaan-perayaan keluarga Anda. Dialog dan persahabatan semakin diperkokoh. Puji Tuhan!</p>
<p align="left">•2.      Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, perjumpaan persaudaraan ini juga memberi kita suatu kesempatan untuk mengadakan refleksi bersama tentang pokok pembicaraan timbal-balik yang akan semakin memperkaya hubungan kita satu sama lain dan semakin membantu meningkatkan saling pengenalan kita, baik menyangkut nilai-nilai yang dapat kita nikmati bersama, maupun menyangkut perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita. Tahun ini kami ingin mengangkat ikhwal Keluarga.</p>
<p align="left">•3.      Satu dari dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua, yakni <em>Gaudium et Spes,</em> yang mengupas perihal keberadaan Gereja di dunia modern, menegaskan: "Keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan Kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga. Maka umat Kristiani, bersama dengan siapa saja yang menjunjung tinggi rukun hidup itu, dengan tulus hati bergembira tentang pelbagai upaya, yang sekarang ini membantu orang-orang untuk makin mengembangkan rukun cinta-kasih itu dan menghayatinya secara nyata, dan menolong para suami-isteri serta orangtua dalam menjalankan tugas mereka yang luhur. Lagi pula mereka memang mengharapkan manfaat yang lebih besar lagi dari padanya, dan berusaha untuk meningkatkannya" (no 47). </p>
<p align="left">4.       Penegasan itu mengingatkan kita dengan tepat sekali, bahwa perkembangan setiap pribadi manusia dan masyarakat, sebagian besar bergantung pada sehatnya keluarga. Berapa banyak orang yang harus memikul, kadang-kadang bahkan untuk seumur hidupnya, beban berat dari luka-luka batin yang diakibatkan oleh latarbelakang keluarganya yang bermasalah atau yang penuh gejolak? Berapa banyak lelaki dan perempuan yang sekarang berada dalam jurang penderitaan karena narkoba dan kekerasan, sedang berusaha dengan sia-sia untuk sampai pada pemulihan dirinya karena trauma yang diderita pada masa kecilnya? Umat Kristiani dan Umat Muslim dapat dan harus bekerjasama untuk menjamin martabat keluarga-keluarga, baik di masa sekarang ini maupun di masa-masa yang akan datang.</p>
<p align="left">•5.       Umat Kristiani dan Umat Muslim sama-sama menjunjung tinggi martabat keluarga-keluarga. Kita juga telah mendapat banyak kesempatan, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk menjalin kerjasama di bidang ini. Keluarga, di mana ada cinta dan kehidupan, di mana saling menghormati dan keramah-tamahan dijumpai dan diserahalihkan sebagai harta warisan, adalah sungguh-sungguh "sel dasar dari masyarakat".</p>
<p align="left">•6.       Umat Kristiani dan Umat Muslim hendaknya tidak pernah boleh ragu-ragu, bukan hanya dalam hal mengulurkan tangan membantu keluarga-keluarga yang berada dalam kesulitan, tetapi juga bekerjasama dengan siapa saja yang mempunyai keprihatinan untuk mendukung stabilitas kedudukan keluarga sebagai sebuah lembaga dan tempat diembannya tanggungjawab orangtua, khususnya di bidang pendidikan. Kiranya hanya satu saja yang ingin saya garisbawahi untuk Anda: Keluarga adalah sekolah pertama di mana seorang belajar untuk menghormati yang lain, dengan memperhatikan sepenuhnya identitas dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kiranya hal itu hanya akan membawa keuntungan bagi dialog antarumat beragama dan penghayatan kewarganegaraan kita.</p>
<p align="left">•7.      Sahabat-sahabat yang terkasih, menjelang berakhirnya ibadat puasa Anda, saya berharap, bahwa Anda, bersama dengan keluarga Anda dan mereka semua yang karib dengan Anda, dengan mendapatkan pemurnian dan pembaharuan dari pelaksanaan ibadat yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Anda ini, sungguh akan menikmati kecerahan dan kesejahteraan dalam hidup Anda! Semoga Allah <em>subhanahu wa taala</em> memenuhi Anda dengan kerahiman dan kedamaian-Nya.</p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"><em>Jean-Louis Kardinal Tauran<br />
</em>Ketua</p>
<p>                                                                                           </p>
<p>                                                                                       </p>
<p>                                                                <em>Uskup Agung Pier Luigi Celata<br />
</em>                                                                            Sekretaris</p>
<p>     </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: <a href="http://mirifica.net/printPage.php?aid=5323">http://mirifica.net/printPage.php?aid=5323</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Christen und Muslime: Gemeinsam für die Würde der Familie]]></title>
<link>http://deislam.wordpress.com/2008/09/20/christen-und-muslime-gemeinsam-fur-die-wurde-der-familie/</link>
<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 08:35:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>deislam</dc:creator>
<guid>http://deislam.hu.wordpress.com/2008/09/20/christen-und-muslime-gemeinsam-fur-die-wurde-der-familie/</guid>
<description><![CDATA[Zitat aus ZENIT.org: ZG08092001 - 20.09.2008 (Hervorhebungen durch uns)
Permalink: http://www.zenit.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Zitat aus ZENIT.org: ZG08092001 - 20.09.2008 <em>(Hervorhebungen durch uns)</em><br />
Permalink: <a href="http://www.zenit.org/article-15950?l=german">http://www.zenit.org/article-15950?l=german</a></p>
<blockquote><p><strong>Botschaft des Vatikans zum Ende des Ramadan</strong></p>
<p>ROM, 20. September 2008 (ZENIT.org).- Wir veröffentlichen die Botschaft des Päpstlichen Rates für den Interreligiösen Dialog zum Ende des diesjährigen Ramadans. Das Schreiben steht ganz im Zeichen der Familie, jenes Ortes also, „wo die Liebe und das Leben, die Achtung vor dem andern und die Gastfreundschaft sich begegnen und weitergegeben werden“. Die Familie „ist wirklich die Grundzelle der Gesellschaft“, bekräftigen Kardinal Tauran und Erzbischof Celata.</p>
<p>„Christen und Muslime dürfen nicht zögern, nicht nur den Familien in Schwierigkeiten zu Hilfe zu kommen, sondern auch mit all jenen <strong>zusammenzuarbeiten</strong>, denen die Stabilität der Institution Familie und die Ausübung der elterlichen Verantwortung am Herzen liegen, <strong>besonders auf dem Gebiet der Erziehung</strong>.“</p>
<p>***</p>
<p>Liebe muslimische <strong>Freunde</strong>!</p>
<p>1. Da sich der Monat Ramadan dem Ende nähert, freut es mich - einer nunmehr <strong>gut bewährten Tradition</strong> folgend - , Ihnen <strong>die besten Wünsche</strong> des Päpstlichen Rates für den interreligiösen Dialog zu übermitteln. Während dieses Monats haben <strong>Ihnen nahestehende Christen</strong> an Ihren <strong>Besinnungen</strong> und familiären Feiern teilgenommen; der Dialog und die <strong>Freundschaft</strong> sind stärker geworden. <strong>Gott sei dafür gepriesen</strong>!</p>
<p>2. Wie in der Vergangenheit bietet dieses <strong>freundschaftliche</strong> rendez-vous uns auch die Gelegenheit, <strong>zusammen</strong> über ein aktuelles Thema nachzudenken, das unseren Austausch bereichern und uns helfen kann, uns mit <strong>unseren gemeinsamen Werten</strong> und Unterschieden besser zu verstehen. In diesem Jahr  möchten wir Ihnen das Thema der Familie vorschlagen.</p>
<p>3. Eines der Dokumente des Zweiten Vatikanischen Konzils, Gaudium et Spes, über die Kirche in der Welt von heute, sagt: „Das Wohl der Person sowie der menschlichen und christlichen Gesellschaft ist zuinnerst mit einem Wohlergehen der Ehe- und Familiengemeinschaft verbunden. Darum  begrüßen die Christen zusammen mit allen, welche diese Gemeinschaft hochschätzen, aufrichtig all die verschiedenen Hilfen, mittels derer man heute in der Förderung dieser Gemeinschaft der Liebe und im Schutz des Lebens vorwärtskommt und Gatten und Eltern bei ihre großen Aufgabe unterstützt werden. Die Christen hoffen daher auf noch bessere Resultate und suchen dazu beizutragen“ (Nr. 47).</p>
<p>4. Diese Worte erinnern uns daran, dass die Entwicklung der Person und der Gesellschaft zum großen Teil vom Wohlergehen der ehelichen und familiären Gemeinschaft abhängt! Wie viele Menschen tragen - manchmal das ganze Leben lang - die Lasten der Verwundungen einer schwierigen oder dramatischen familiären Situation? Wie viele Männer und Frauen versinken im Abgrund von Drogen oder Gewalt und suchen vergeblich eine traumatische Kindheit wieder gutzumachen? Wir alle, <strong>Christen und Muslime, können und <span style="text-decoration:underline;">müssen</span> zusammenarbeiten, um die Würde der Familie zu schützen, heute und morgen. </strong></p>
<p>5. Auf diesem Gebiet haben wir schon öfters die Gelegenheit gehabt, auf lokaler und internationaler Ebene zusammenzuarbeiten, zumal Christen und <strong>Muslime die Familie durchaus hochschätzen</strong>. Die Familie, der Ort, wo die Liebe und das Leben, die Achtung vor dem andern und die Gastfreundschaft sich begegnen und weitergegeben werden, ist wirklich die „Grundzelle der Gesellschaft“.</p>
<p>6. <strong>Christen</strong> und Muslime <strong>dürfen nicht zögern</strong>, nicht nur den Familien in Schwierigkeiten zu Hilfe zu kommen, sondern auch mit all jenen <strong>zusammenzuarbeiten</strong>, denen die Stabilität der Institution Familie und <strong>die Ausübung der elterlichen Verantwortung am Herzen liegen, besonders auf dem Gebiet der Erziehung</strong>. Es ist nicht unangebracht, daran zu erinnern, dass die Familie <strong>die erste Schule</strong> ist, wo man <strong>die Achtung vor dem anderen hinsichtlich </strong>seiner Identität und <strong>seiner Verschiedenheit</strong> lernt. Der <strong>interreligiöse</strong> Dialog und die Ausübung der staatsbürgerlichen Rechte und Pflichten können daraus nur Nutzen ziehen.</p>
<p>7. Liebe <strong>Freunde</strong>, jetzt da Ihr Fasten zu Ende geht und Sie <strong>durch die Ihrer Religion teuren Praktiken gereinigt und erneuert sind</strong>, mögen Sie mit Ihren Familien und denen, die Ihnen lieb sind, <strong>ein  glückliches und erfolgreiches Leben</strong> erfahren! <strong>Der allmächtige Gott erfülle alle mit seiner Barmherzigkeit und seinem Frieden.</strong></p>
<p>Jean-Louis Card. Tauran<br />
Präsident</p>
<p>Erzbischof Pier Luigi Celata<br />
Sekretär</p>
<p>[Vom Päpstlichen Rat veröffentlichte deutschsprachige Originalversion]</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Unser Kommentar:</strong></span><br />
Was haben solche Kardinäle und Erzbischöfe eigentlich für eine Vorstellung vom Islam? (Und vom Christsein?) Bevor sie solche "Schmuse-" und Anbiederungsbriefe schreiben, sollten sie sich schon einmal ein <strong>gründliches</strong> Wissen über seine Lehren und Praktiken und seine Geschichte - auch die alleraktuellste - aneignen. Eine (echt) <span style="text-decoration:underline;"><strong>christliche</strong></span> Familie mit einer muslimischen Familie zu vergleichen, bzw. praktisch  gleichzusetzen, ist doch <strong>absurd</strong>. Eine muslimische Familie lebt nach den Gesätzen des <span style="text-decoration:underline;">un</span>heiligen Korans (des "Letzten, [endgültigen] Testaments"), wo möglich auch nach den Gesetzen der Scharia, verehrt einen Erzhäretiker als "das Siegel aller Propheten", als "natürlicher Nachfolger des Christus", als "Heiligen Geist",   bekennt sich zur "Ummah" (der religiösen Gemeinschaft aller Muslime), der weltweiten Widersacherin der Heiligen Kirche, glaubt nicht an die drei göttlichen Personen: Vater, Sohn und Heiliger Geist, verwirft und bekämpft den Glauben an die Menschwerdung Gottes in JESUS CHRISTUS, sein gott-menschliches Dasein auf ewig, bestreitet Seinen Kreuzestod und überhaupt Sein Erlöserwirken und Sein Erlöserwerk, alles zentralste Dinge und Wahrheiten unseres, des einzig wahren Glaubens! Und mit solchen "Familien" sollen unsere christlichen Familien "zusammenarbeiten" und zwar "besonders in der Erziehung" der Kinder! Was kann bei solcher Kollaboration Gutes herauskommen? Werden dabei solche christlichen Familien christlicher? Bestimmt nicht. Sie werden vielmehr mohammedanisch-"christlich", ganz wie dieser "päpstliche Rat", der auch schon nicht mehr echt christlich, nicht mehr katholisch-christlich ist, sondern "interreligiös-christlich". Und ihre Verblendung geht schon soweit, dass sie glauben, "der Allmächtige Gott erfülle (auf ihren Wunsch hin) ALLE, ob auch Antichrist, mit seiner Barmherzigkeit seinem Frieden"!</p>
<p>Papst Pius XII. lehrt in seinem Rundschreiben "Summi Pontificatus" (vom 20. Oktober 1939) über "<strong>die Sendung der christlichen Familie</strong>" Folgendes:</p>
<blockquote><p>Bei der Förderung dieses heute so wichtigen Laienapostolates fällt eine besondere Sendung der Familie zu. Der Geist der Familie ist für den Geist des jungen Geschlechtes entscheidend. Solange am heimischen Herd die heilige Flamme des Christusglaubens brennt, solange Vater und Mutter das Leben ihrer Kinder nach diesem Glauben formen und prägen, wird es immer wieder Jugend geben, die bereit ist, die Königsrechte des Erlöses anzuerkennen und jedem Widerstand zu leisten, der diesen Erlöser aus der Öffentlichkeit verbannen oder in seine Rechte frevelnd eingreifen will. Wo die Kirchen geschlossen, wo von den Wänden der höheren und niederen Schulen das Bild des Gekreuzigten entfernt wird, bleibt die Familie der providentielle, in  einem gewissen Grade unangreifbare Zufluchtsort christlicher Glaubensgesinnung. Und - Gott sei es gedankt! - unzählige Familien erfüllen diese ihre Sendung in unbeirrbarer Treue, die allen Anfechtungen und Opfern trotzt. Jugend aus beiden Geschlechtern, in großer Zahl - auch in solchen Ländern, wo das Bekenntnis zu Christus Leid und Verfolgung bedeutet - harrt aus am Throne des Erlöser-Königs mit jener ruhigen und sicheren Entschlossenheit, die an die ruhmreichsten Zeiten der kämpfenden Kirche erinnert. Welche Ströme des Segens könnten sich über die Welt ergießen, wieviel Licht, Ordnung und Befriedigung in die verschiedenen Bereiche des Gemeinschaftslebens einziehen, wieviel kostbare, ja unersetzbare Kräfte könnten für die großen Aufgaben und Ziele der Menschheit nutzbar gemacht werden, wenn man der Kirche, der berufenen Lehrmeisterin von Gerechtigkeit und Liebe, freie Bahn gäbe, auf die sie kraft ihres Gottesauftrages ein heiliges, unbestreitbares Recht besitzt! Wieviel Unheil könnte verhütet, wieviel Glück und Zufriedenheit geschaffen werden, wollte die soziale und übernationale Friedensarbeit sich von den starken Antrieben des Evangeliums christlicher Liebe im Kampf gegen individuellen und kollektiven Eigennutz lenken lassen!"</p></blockquote>
<p>Solche Worte müssten die Beauftragten im Vatikan auch zuhanden der Muslime immer wieder in Erinnerung rufen, ihnen klarmachen, dass ihr Ramadam-Fasten rein nichts nützt, wenn sie sich nicht zu CHRISTUS, dem König des Himmels und der Erde, der Zeit und der Ewigkeit bekehren.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kardinal Bertone: Gottessuche verbindet französische Muslime und Benedikt XVI.]]></title>
<link>http://deislam.wordpress.com/?p=325</link>
<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 17:57:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>deislam</dc:creator>
<guid>http://deislam.hu.wordpress.com/2008/09/18/kardinal-bertone-gottessuche-verbindet-franzosische-muslime-und-benedikt-xvi/</guid>
<description><![CDATA[Wir zitieren aus ZENIT.org, ZG08091803 - 18.09.2008:
Gottessuche verbindet französische Muslime und]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Wir zitieren aus <a href="http://www.zenit.org/rssgerman-15932">ZENIT.org, ZG08091803</a> - 18.09.2008:</p>
<blockquote><p><strong>Gottessuche verbindet französische Muslime und Benedikt XVI.</strong><br />
<strong>Kardinal Bertone kommentiert Papstbesuch in Paris</strong></p>
<p>ROM, 18. September 2008 (Zenit.org).- Auf ein überraschend positives Echo insbesondere bei Muslimen stößt <a href="http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/speeches/2008/september/documents/hf_ben-xvi_spe_20080912_parigi-cultura_ge.html" target="_blank">die große Rede im Pariser Collège des Bernardins</a>, die Papst Benedikt XVI. am 12. September vor über 700 französischen Intellektuellen und Vertretern der Welt der Kultur, unter ihnen auch die ehemaligen französischen Präsidenten Jacques Chirac und Giscard D’Estaing, gehalten hat.</p>
<p>In einem Interview mit der vatikanischen Tageszeitung „Osservatore Romano“ vom 15. September äußert sich Kardinalstaatssekretär Tarcisio Bertone als Nachlese der zehnten internationalen Pastoralreise Benedikts XVI. nach Frankreich (12.-15. September) zur Wirkungsgeschichte des Vortrags, in dem das Verhältnis von Glaube und Gesellschaft unter dem Prisma der Identitätsfindung und Gottessuche ausgeleuchtet wird.</p>
<p>„Es war eine hochwertige, anspruchsvolle Vorlesung", durch die der Papst die Menschen eingeladen habe, sich „mit einer Haltung des Zuhörens vor das Wort zu setzen". Der Kardinal fügte hinzu: „Ich würde auch sagen, mit einer Haltung der Verehrung sowie mit der Absicht, uns durch dieses Wort verwandeln zu lassen, um dann dementsprechend handeln zu können. Es ging also um Wort und Werk, Gottes Werk und die Arbeit des Menschen".</p>
<p>Vielleicht habe es eine gewisse Überraschung gegeben, fuhr er fort, „eben gerade weil jeder erwartet hatte, dass der Papst über den Glauben sprechen würde, über Kultur und Vernunft, oder vielleicht die Politik".</p>
<p>Der Heilige Vater „ging weit darüber hinaus", so Kardinal Bertone. „Als ich das Publikum sah, hatte ich den Eindruck einer klaren Trennung zwischen denen, die fast schwärmerisch zuhörten, und anderen, die diesen typischen Ausdruck von Menschen haben, die draußen bleiben oder sich selbst verwirrt erleben."</p>
<p>Zum Publikum in Paris gehörte auch eine Delegation der französischen Muslimen. Es leben rund fünf 5 Millionen Muslime in Frankreich.</p>
<p>Kardinal Bertone meinte, Man habe ein großes Interesse der Öffentlichkeit für die muslimischen Reaktionen auf die Papst-Rede voraussetzen können, da seine Ansprache in der Universität Regensburg genau zwei Jahre zuvor eine starke Reaktion ausgelöst habe, deren Folgen auch heute noch zu spüren seien.</p>
<p>„Der Papst", so der Staatssekretär weiter, „sprach über das Wort, über die Heilige Schrift, über das Buch der Christen, und das ist sicherlich nicht das Buch der Muslime. Ich glaube aber, dass die Vertreter der muslimischen Gemeinde dem viel Interesse geschenkt haben. Ich stellte zum Beispiel fest, dass sie die Einladung des Papstes, nach Gott zu suchen, aufrichtig teilten. In diesem Bereich glauben sie ja nichts anderes als wir; ja, hier könnte eine Stelle zum Andocken sein! Als dann am Ende der Veranstaltung der Papst auf sie zuging und mit jedem, den er begrüßte, sprach, da habe ich viele Ausdrucksformen von Einverständnis wahrgenommen. Sie waren glücklich, und der Umgang mit dem Papst war sehr zuvorkommend", so Kardinal Bertone. „So denke ich, dass sie zufrieden waren.“</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Unser Kommentar:</strong></span><br />
Wie kann man doch, um des "Friedens" und "Beifalls" seitens Anders- und Ungläubiger willen den "Nenner" einer (päpstlichen) Rede so tief ansetzen, dass er "gemeinschaftlich" wird und damit "Gemeinschaft" vortäuscht, wo gar keine, ja das Gegenteil davon ist! "Die Einladung des Papstes, <strong>nach Gott zu suchen</strong>", hätten die Muslime aufrichtig geteilt, sagt Kardinal Bertrone. Gewiss können die Muslime dem Stellvertreter Christi dankbar und mit ihm "zufrieden" sein, wenn er nur dies von ihnen erwartet. Eine gewisse Art von "Gottessuche" teilen sie ja schon immer mit den Christen. Aber sie suchen, wenn überhaupt, Gott im Falschen, im Irrigen. Sie kennen und haben Gott schon in ALLAH, und der ist auf alle Fälle nicht dreipersönlich und ist nicht Mensch geworden und hat die Menschheit nicht erlöst durch Sein Leiden und Sterben am Kreuz. In diesem Bereiche glauben sie eben etwas GANZ ANDERES, GANZ GEGENTEILIGES als wir Christen. Ihr Allah ist absolut GEGEN den christlichen GOTT. Und wenn Christen Gott suchen, dann nicht, um Ihn irgendwie zu finden, sondern um den in CHRISTUS bereits gefundenen Gott immer besser kennen zu lernen. Und wenn Muslime nach Gott suchen, dann bleiben sie bei aller "Vertiefung" in ihrer mohammedanisch Finsternis, in ihrem koranischen Todesschatten. Der Papst müsste ihnen sagen: Sucht Gott in JESUS CHRISTUS, dem MENSCH gewordenen SOHNE GOTTES, der ALLEIN <strong><span style="text-decoration:underline;">der</span> WEG</strong>, <strong><span style="text-decoration:underline;">die</span> WAHRHEIT</strong> und <strong><span style="text-decoration:underline;">das</span> LEBEN</strong> ist!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Olmert'ten İlginç Açıklama !]]></title>
<link>http://trsiyaset.wordpress.com/?p=41</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 21:53:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>trsiyaset</dc:creator>
<guid>http://trsiyaset.hu.wordpress.com/2008/09/17/olmertten-ilginc-aciklama/</guid>
<description><![CDATA[İsrail Başbakanı Olmert&#8217;ten ilginç bir açıklama geldi..
İsrail Başbakanı Ehud Olmert
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="ozet">İsrail Başbakanı Olmert'ten ilginç bir açıklama geldi..</p>
[caption id="" align="alignright" width="250" caption="İsrail Başbakanı Ehud Olmert"]<img title="İsrail Başbakanı Ehud Olmert" src="http://buyukortadoguprojesi.com/Resimler/Haber/olmert.jpg" alt="" width="250" height="190" />[/caption]
<p class="ozet">
<div class="ozet"><span style="font-size:x-small;">İsrail Başbakanı Ehud Olmert'in <strong>Büyük İsrail Projesi</strong> 'nin sona erdiğini söylediği ifade edildi.İsrail medyasında yer alan heberlere göre Olmert, Batı Şeria'daki evleri boşaltmaya gönüllü kişilere ödenecek tazminatların görüşüldüğü kabine toplantısında bakanlarına, <strong>"Büyük İsrail Projesi bitmiştir, artık böyle bir şey yok. Her kim böyle bir şeyi hala söylerse kendini kandırır"</strong> dedi. Olmert, kendisinin Büyük İsrail Projesi'ni savunmadığını, İsraillilerin iki devletli bir yönetim istemiyorlarsa Batı Şeria'da ikamet eden halk ile bu bölgeyi paylaşmaları gerektiğini açıkladı.</span></div>
<p><span style="font-size:x-small;"></p>
<div><span style="font-size:x-small;">Omert'in bu sözleri ile her zamanki İsrail politikası, yani ikiyüzlülük politikasını yürüteceği tahmin ediliyor. Nitekim daha önce de savaşın bitirildiğine dair defalarca açıklamalar yapmışlardı ve hiçbir değişiklik olmamıştı. Bugün özellikle Türkiye'de <strong>Büyük Ortadoğu Projesi </strong>'nin deşifre olması ile birlikte, Olmert 'in böyle bir açıklama yaparak yüzyıllardır süregelen yahudi politikasını/amacını deaktif durumda göstermeyi amaçladığı düşünülüyor..</span></div>
<p><span style="font-size:x-small;"> </p>
<p></span></span></p>
<p><a href="http://www.buyukortadoguprojesi.com">http://www.buyukortadoguprojesi.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vatikan Tolak Euthanasia]]></title>
<link>http://pormadi.wordpress.com/?p=478</link>
<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 07:55:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>pormadi</dc:creator>
<guid>http://pormadi.hu.wordpress.com/2008/09/17/vatikan-tolak-euthanasia/</guid>
<description><![CDATA[Paus Benedict XVI Serukan Umat Menentang Upaya Mempercepat Kematian
 

LORDES: Orang harus menerima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="title">Paus Benedict XVI Serukan Umat Menentang Upaya Mempercepat Kematian</span></p>
<p> </p>
<p class="f8gray"><img src="http://pormadi.wordpress.com/images/1pixelcfdod5.gif" alt="" width="98%" height="1" /></p>
<p class="f9black" align="left">LORDES: Orang harus menerima kematian pada “waktu yang telah ditetapkan oleh Allah,” Paus Benedict XVI berkata kepada para peziarah dalam sebuah pesan menentang eutanasia (upaya yang dilakukan untuk mempercepat kematian-red) di Lourdes, sebuah tempat keramat yang menggambarkan keputusasaan, kesakitan, dan kematian.</p>
<p>Pada sebuah ibadah di alam terbuka Senin lalu tepatnya di luar cagar alam yang terkenal dengan sumber airnya yang dapat menyembuhkan, beberapa orang percaya yang berbaring di kereta dorong, di balut dengan potongan kain dan selimut tebal. Ada beberapa yang bernapas dengan tabung oksigen.</p>
<p>Paus yang berusia 81 tahun memberikan sakramen orang sakit kepada 10 orang, kebanyakan berada di kursi roda, dengan hati-hati meminyaki dahi dan tangan mereka dengan minyak suci.</p>
<p>Sementara beberapa negara Eropa tidak melarang eutanasia, Vatikan secara berapi-api menyerukan bahwa hidup harus terus berlangsung sampai secara alami berakhir. Paus mengatakan dalam homilinya bahwa orang sakit harus berdoa untuk dapat menemukan “ kasih karunia yang diterima, tanpa rasa takut dan kepahitan, untuk meninggalkan dunia ini sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan Allah.”</p>
<p>Misa tersebut menutup perjalanan empat hari paus ke Perancis , yang merupakan kunjungan pertamanya ke negara tersebut sejak menjadi Paus pada 2005. Benedict mempergunakan perjalanan tersebut untuk memaparkan perlawanan gereja terhadap materialisme yang semakin merajalela dalam kehidupan modern dan mengakui pernikahan baru orang Katolik yang telah bercerai.</p>
<p>Paus juga menyerukan untuk member tempat lebih bagi agama di dalam masyarakat, sebuah topik yang memperbarui perdebatan panjang yang memanas di Perancis tentang sejarah pemisahan gereja dan negara --yang begitu kukuh menetapkan bahwa anak sekolah di larang memakai kerudung atau memakai kalung salib besar di sekolah umum.</p>
<p>Dalam suatu negara Katolik Roma tradisional dengan populasi penduduk yang pergi ke gereja makin sedikit dan kelompok Muslim yang meningkat, Presiden Nicolas Sarkozy yang konservatif menyerukan bahwa dialog dengan kelompok-kelompok agama harus memainkan peranan besar dalam pengambilan keputusan dan perdebatan nasional – hal tersebut merupakan sebuah subyek yang mana dirinya dan Benedict temukan sering muncul .</p>
<p class="f9black" align="left">Sumber: <a href="http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=europe&#38;id=245">http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=europe&#38;id=245</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vatikan: Pertunjukan Madonna = Pertunjukan Setan Terhebat]]></title>
<link>http://pormadi.wordpress.com/?p=456</link>
<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 01:39:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>pormadi</dc:creator>
<guid>http://pormadi.hu.wordpress.com/2008/09/16/vatikan-pertunjukan-madonna-setan/</guid>
<description><![CDATA[



Madonna mempersembahkan lagu ‘Like a Virgin’ bagi Paus




[mirifica 15/9] Penyanyi pop terk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="10" cellpadding="5" width="100%" bgcolor="#ffffff">
<tbody>
<tr>
<td>
<h2>Madonna mempersembahkan lagu ‘Like a Virgin’ bagi Paus</h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<img title="madonna" src="http://pormadi.wordpress.com/uploadan/ebrief/madonna1.jpg" alt="madonna" hspace="8" vspace="8" width="350" height="319" align="left" />[mirifica 15/9] Penyanyi pop terkenal Madonna yang pementasannya pernah dituduh Vatikan sebagai sebagai salah satu penampilan yang paling setan dari semua penampilan gila yang pernah ada dalam sejarah, mengejutkan para penggemarnya dengan mempersembahkan lagu "Like A Virgin" kepada Paus pada sebuah konser besar yang tiketnya terjual habis di Roma.</p>
<p>"saya mempersembahkan lagu ini untuk Bapa Suci, karena saya adalah anak Allah dan kalian semua juga anak Allah," demikian dikatakan sang Ratu pop yang telah berumur 50 tahun ini kepada 60.000 penggemarnya yang berbondong-bondong menyaksikan tour pertunjukan keliling dunianya yang "basah dan manis" di Roma Sabtu lalu.</p>
<p>Koran Italia menulis besar-besaran tentang penampilan penyanyi yang bombastis tersebut serta mengomentari persembahan lagu untuk Paus itu sebagai sebuah provokasi yang mengejutkan.</p>
<p> "Pada pertunjukkan terakhirnya di Roma, Madonna tidaklah melewatkan kesempatan untuk berprovokasi bahwa hal tersebut dapatlah didiskusikan," demikian ditulis surat kabar terkemuka Italia <em>Corriere della Sera</em> pada halaman muka</p>
<p>Madonna, yang berasal dari keluarga Katolik Italia yang saleh, telah membangkitkan kemarahan gereja Katolik di masa lalu dengan penampilan panggungnya yang ‘panas' yang membuat para penonton shock dan terpana.</p>
<p>Dalam penampilan tahun 2006, Madonna tampil memperolok penyaliban Yesus pada sebuah konser di Roma. Penampilannya saat itu dengan dilatarbelakangi tuduhan Vatikan kepadanya atas penghujatan.</p>
<p>Vatikan juga mengutuk rekaman video "Like A Prayer"nya yang mengundang kontraversi di tahun 1989.  Saat itu aksi panggungnya menampilkan salib terbakar, patung-patung yang menangis darah, dan Madonna yang sedang menggoda seorang Yesus yang jahat.</p>
<p>Vatikan kemudian mencela penampilannya sebagai "salah satu pertunjukan setan terhebat dari semua pertunjukan setan yang ada dalam sejarah manusia<em>". [Mirifica/R/2008/Diterjemahkan dari Reuter]</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: <a href="http://mirifica.net/printPage.php?aid=5299">http://mirifica.net/printPage.php?aid=5299</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Das Gottesteilchen]]></title>
<link>http://efeder.wordpress.com/?p=1955</link>
<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 15:23:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mcp</dc:creator>
<guid>http://efeder.hu.wordpress.com/2008/09/08/das-gottesteilchen/</guid>
<description><![CDATA[Zur Zeit suchen auf meinen Blog viele User, im Zusammenhang mit der Inbetriebnahme des LHC,  nach de]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Zur Zeit suchen auf meinen Blog viele User, im Zusammenhang mit der Inbetriebnahme des LHC,  nach dem „Gottesteilchen“. Hier zwei  linke Links:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.zeit.de/online/2007/52/teilchenbeschleuniger-cern" target="_blank">Die Gemeinde vibriert</a></li>
<li><a href="http://www.spiegel.de/wissenschaft/mensch/0,1518,576529,00.html" target="_blank">Die Jagd nach dem Gottesteilchen beginnt</a></li>
</ul>
<p>Der Vatikan ist nicht uninteressiert, aber schweigt dazu. Typisch. Oder? Dan Brown übernehmen sie. Das riecht nach einem neuen Bestseller: Vatikan verschweigt Gottesteilchen. Oder noch besser, Vatikan klagt, intrigiert ud sabotiert das CERN. Weil er nicht will, dass Gott bloss ein Teilchen ist. Zusammen, diesmal, mit den islamischenTerroristen. Und das Opus Dei mischt auch wieder kräftig mit.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hirn oder Herz?]]></title>
<link>http://efeder.wordpress.com/?p=1918</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 03:59:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>katechon</dc:creator>
<guid>http://efeder.hu.wordpress.com/2008/09/06/hirn-oder-herz/</guid>
<description><![CDATA[Bis heute gilt die Definition des Hirntodes als Kriterium für die Entnahme von Organen zum Zwecke d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bis heute gilt die Definition des Hirntodes als Kriterium für die Entnahme von Organen zum Zwecke der Transplantation. Dieser Meinung hat sich auch die katholische Kirche angeschlossen, der Papst selber gilt als Befürworter der Organspende.</p>
<p>Diese Definition stellt nun die Historikerin Lucetta Scaraffia in der aktuellen Ausgabe der Vatikanzeitung „Osservatore Romano“ als Mitglied des vatikanischen Ethikrates in Frage. Sie bezeichnet in einem Artikel den Hirntod als eine an die Bedürfnisse der Transplantationsmedizin angepasste Definition, die zudem der katholischen Lehre deshalb zuwiderlaufe, weil sie das Leben auf die Hirnfunktionen reduziere. Sie verweis darauf, dass Schwangerschaften trotz des eingetretenen Hirntodes erfolgreich weiterführt wurden und forderte, im Lichte neuer wissenschaftlicher Erkenntnisse, eine Überprüfung der seit 1968 geltenden Definition.</p>
<p>Im Vatikan stieß der Vorstoß auf ein geteiltes Echo, wobei betont wurde, dass der Artikel nicht die offizielle Position des Vatikans widerspiegele. Der Präsident des Päpstlichen Gesundheitsrats, Kardinal Javier Lozano Barragßn, hingegen, unterstütze die Initiative „vollständig“.</p>
<p>Außerhalb der katholischen Kirche gab es, wen wundert es, überwiegend heftige Kritik an dem Artikel. So nannte der Vorsitzende des Beirats für Bioethik, Maurizio Mori von der Demokratischen Partei den Artikel „unverantwortlich, weil er die gesellschaftliche Solidarität für Tausende Menschen, die auf eine Transplantation hoffen, gefährde.“</p>
<p>Unverantwortlich wäre es, die Kriterien nicht auf dem Prüfstand zu halten, denn es gibt einen Zeitpunkt, an dem der Tod unzweifelhaft eingetreten ist. Das ist der Herzstillstand und die Minuten danach, wenn durch die mangelnde Sauerstoffversorgung irreparable Organschäden eingetreten sind und jede medizinische Kunst versagt. Aber dieser, gänzlich unzweifelhafte, Todeszeitpunkt widerspricht den Interessen der Transplantationsmedizin, die „frische“ Organe braucht und die daher den Todeszeitpunkt nur deshalb nach vorne verlegt, weil sie das noch zuckende Herz aus dem Patienten herausschneiden muss.</p>
<p>Die ganze Diskussion dreht sich folglich um eine medizinisch-technische und eben nicht um eine ethische Frage. Es geht im Grunde nur darum, die Menge der verfügbaren Spender dem Bedarf anzupassen.</p>
<p>Die katholische Kirche hat mit diesem Anstoß wieder einmal bewiesen - auch im Interesse aller, die ohne Glauben sind - wie wichtig ihr Dasein allein deshalb ist, weil man als moralischer Stachel im Fleische blutleerer, wie gefühlsloser Technokraten dafür sorgt, dass der Mensch und nicht die Menschmaschine im Mittelpunkt unseres Denkens bleibt.</p>
<p>Hirn oder Herz? Das Hirn eines Technokraten oder das Herz Jesu? Wer entscheidet über den Tod? Zu wem hätten sie mehr vertrauen?</p>
<p><strong>Quelle:</strong> Radio Vatikan; <a href="http://www.radiovaticana.org/ted/Articolo.asp?c=228801" target="_blank">Wie tot ist hirntot?</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Die Geschichte des Eugenio Pacelli]]></title>
<link>http://efeder.wordpress.com/?p=1858</link>
<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 10:52:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mcp</dc:creator>
<guid>http://efeder.hu.wordpress.com/2008/09/05/die-geschichte-des-eugenio-pacelli/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Der preisgekrönte Kirchenhistoriker Hubert Wolf hat neues Licht in eine dunkle Epoche der Ge]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>"Der preisgekrönte Kirchenhistoriker Hubert Wolf hat neues Licht in eine dunkle Epoche der Geschichte gebracht. Für sein Buch "Papst und Teufel" hat der Autor erst vor kurzem geöffnete Archivakten aus der Zeit des Nationalsozialismus studiert. Das erlaubt ihm ein differenzierteres Urteil über Papst Pius XII., der vielen als "Hitlers Papst" gilt."<br />
"Wer hinter dem Titel "Papst und Teufel" eine der üblichen Geschichten aus den "Geheimverliesen des Vatikan" erhofft, liegt falsch. Keine Fortsetzung der Fantastereien eines Dan Brown, das macht der Kirchenhistoriker Hubert Wolf gleich zu Beginn seines neuesten Buches deutlich:</p>
<p><em>"Das Bild, das sich Dan Brown vom Vatikanischen Geheimarchiv gemacht hat, könnte unzutreffender nicht sein. Die Szenerie ist nicht einmal gut erfunden."</em></p>
<p>Im Gegensatz zu dem amerikanischen Thrillerautor und seiner Spinnergeschichte "Illuminati" hatte Hubert Wolf jahrelang als Forscher Zugang zum Archiv des Vatikan. Nicht etwa nur papsttreue Katholiken, nein, jeder, der sich als seriöser Wissenschaftler ausweisen kann, darf dort auch in den erst vor kurzem geöffneten Akten uneingeschränkt forschen. Wolf hat als einer der ersten die Materialien aus der Zeit des Nationalsozialismus studiert.</p>
<p>Im Zentrum der Geschichte steht Eugenio Pacelli, der in den Zwanzigerjahren päpstlicher Nuntius bei der deutschen Reichsregierung in Berlin war, danach Kardinalstaatssekretär unter Pius XI. und damit in den ersten Jahren der Hitlerei mächtigster Mann im Vatikan nach dem Papst."<br />
<strong>Quelle:</strong> Deutschlandradio; <a href="http://www.dradio.de/dkultur/sendungen/lesart/839239/" target="_blank">Die Geschichte des Eugenio Pacelli</a></p></blockquote>
<p>Ein scheinbar objektives Buch um einen "umstrittenen" Papst. Gerade bei <a href="http://www.amazon.de/Papst-Teufel-Archive-Vatikan-Dritte/dp/3406577423/ref=sr_1_1?ie=UTF8&#38;s=books&#38;qid=1220611306&#38;sr=8-1" target="_blank">amazon</a> bestellt.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sensation im Frauenfussball]]></title>
<link>http://worldofsoeren.wordpress.com/?p=1172</link>
<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 11:44:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>worldofsoeren</dc:creator>
<guid>http://worldofsoeren.hu.wordpress.com/2008/08/28/sensation-im-frauenfussball/</guid>
<description><![CDATA[Der Vatikan schickt seine eigene Damenmannschaft zur nächsten WM.

]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Der Vatikan schickt seine eigene Damenmannschaft zur nächsten WM.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-1173" src="http://worldofsoeren.wordpress.com/files/2008/08/142136.jpg" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Presiden Pertama di Dunia Yang Menolak Digaji]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=447</link>
<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 14:47:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.hu.wordpress.com/2008/08/20/presiden-pertama-di-dunia-yang-menolak-digaji/</guid>
<description><![CDATA[Menurut kantor berita Associated Press, gaji presiden Paraguay adalah sebesar  4.000 dolar AS atau s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Menurut kantor berita <em>Associated Pres</em>s, gaji presiden Paraguay adalah sebesar  4.000 dolar AS atau sekitar Rp.37 juta per bulan. Sangat kecil dibandingkan gaji anggota DPR-RI, yaitu sebesar Rp.49 juta per bulan. Dan makin kecil lagi dibandingkan gaji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sekitar Rp.150 juta per bulan.</span></p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-472 aligncenter" src="http://ayomerdeka.wordpress.com/files/2008/08/lugo.jpg" alt="" width="450" height="413" /></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Oleh : Robert Manurung</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">FERNANDO LUGO MENDEZ bukan konglomerat atau politisi bergelimang uang. Mantan uskup ini  hanya pekerja sosial yang <em>kere.</em> Tapi sungguh tak disangka,  penganut sosialisme yang mendalami ajaran Pancasila ini malah menolak mendapat gaji selaku Presiden Paraguay, yang diumumkannya pada malam sebelum pelantikannya, Jumat, 16 Agustus lalu.</span><!--more--></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Keputusan Lugo ini adalah keajaiban terbesar di dunia politik,  sepanjang sejarah demokrasi di jagat raya ini. Sendirian dia melawan arus besar yang berlaku di semua negara, termasuk di AS, di mana jabatan presiden memberikan privilese serta  kesempatan memperkaya diri dan kelompok.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Keputusan Lugo yang mencengangkan itu disambut gembira oleh ribuan pendukungnya. Namun, Presiden Ekuador Rafael Correa mengingatkan dengan cemas,”Begitu Lugo mulai mengubah berbagai hal, serangan akan dimulai.”  Serangan dimaksud bakal berasal dari kalangan kapitalis, termasuk kekuatan politik yang berkiblat ke AS. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Bukanlah kebetulan jika semua pemimpin sosialis Amerika Latin hadir dalam acara pelantikan Fernando Lugo, yang berlangsung sederhana di ibukota Asuncion.. Mereka dipersatukan oleh semangat anti-Amerika Serikat, atau setidak-tidaknya berani melawan dan mengatakan TIDAK terhadap negara adi kuasa itu. Sebaliknya negara-negara yang dipimpin para politisi konservatif yang pro Amerika, yaitu Meksiko, Kolumbia, Peru, hanya mengirim utusan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Para presiden beraliran sosialis yang hadir  dalam pelantikan “presiden kaum miskin” itu antara lain  Hugo Chavez dari Venezuela, Luiz Inacio Lula da Silva (Brasil), Cristina Kirchner (Argentina), Michelle Bachelet (Cili), Evo Morales (Bolivia), dan Rafael Correa (Ekuador). Kehadiran mereka membuat acara pelantikan tersebut menjadi semacam perayaan kebangkitan sosialisme gaya baru di bumi Amerika Latin.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Fernando Lugo, 56 tahun, memenangkan pemilu presiden Paraguay pada April lalu. Sebelumnya dia bekerja sebagai uskup Katolik di wilayah-wilayah miskin negara yang bertetangga dengan Brasil, Argentina, dan Bolivia itu. Dia mendapat izin cuti sementara dari Vatikan, memenangkan pemilu, dan menjadi uskup pertama di dunia yang berhasil memenangkan pemilihan presiden. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Gaji presiden Paraguay lebih kecil dibanding gaji anggota DPR-RI</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">TAHUKAH Anda berapa gaji seorang presiden di Paraguay ? </span></p>
<p><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Menurut kantor berita <em>Associated Press</em>, gaji presiden Paraguay adalah sebesar  4.000 dolar AS atau sekitar Rp.37 juta per bulan. Sangat kecil dibandingkan gaji anggota DPR-RI, yaitu sebesar Rp.49 juta per bulan. Dan makin kecil lagi dibandingkan gaji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar Rp.150 juta per bulan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dengan menolak mendapat gaji, pengagum pemikiran Bung Karno ini akan benar-benar menjadi relawan di tampuk kekuasaan Paraguay. Lugo akan menjadi satu-satunya pimpinan negara di dunia yang murni <em>volunteer</em> alias bekerja tanpa mendapat upah. Luar biasa! </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Memang, dia naik ke puncak kekuasaan di negara itu, berkat dukungan kaum miskin, terutama para petani tanpa tanah dan  serikat buruh. Mungkin keputusannya itu adalah wujud solidaritas paling nyata kepada kalangan miskin, yang mencapai 35,6 persen dari total populasi. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Tindakan mulia Fernando Lugo ini cocok betul dengan semboyan kampanye Sutrisno Bachir : karena hidup adalah perbuatan. Sekarang giliran Sutrisno dan para pemimpin Indonesia lainnya untuk mencontoh tindakan nyata Lugo : karena hidup adalah perbuatan nyata ! </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Hidup adalah melayani... </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><strong>Petani tak memiliki tanah</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">PARAGUAY adalah negara paling miskin di kawasan Amerika Latin. Pendapatan utama negara ini bersumber dari produk-produk pertanian, terutama kedelai dan produk turunannya yang menyumbang lebih dari setengah hasil ekspornya, yang pada tahun 2007 tercatat 2.390 juta dolar AS. Tingkat pertumbuhan ekonominya sebenarnya cukup bagus, yaitu 6,4 persen per tahun. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Dengan jumlah penduduk “hanya” 6,5 juta jiwa, negara dengan luas wilayah 406.762 km persegi ini seharusnya bisa memakmurkan rakyatnya. Namun karena negara salah urus; sempat dikuasai oleh kediktatoran selama 39 tahun, korupsi dan nepotisme merajalela, dan lebih dari sepertiga penduduknya adalah petani tanpa tanah; maka label negara termiskin di kawasan itu terpaksa disandangnya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Cobaan di hari pertama berkuasa : obat dan BBM menghilang dari pasar</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">KEMENANGAN Lugo yang mengejutkan telah mengakhiri dominasi Partai Colorado selama 61 tahun di negeri yang cantik itu. Tapi bukan tidak mungkin, “Golkar”-nya Paraguay itu akan kembali berkuasa, jika pemerintahan koalisi yang dipimpin Lugo gagal meredam anarkisme yang timbul akibat euforia di kalangan petani miskin. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-family:Arial,sans-serif;">Segera setelah memastikan Lugo menang dalam pemilu, para petani tanpa tanah langsung menyerobot tanah-tanah pertanian yang dikuasai perusahaan-perusahaan besar. Pada saat yang sama pememerintahan Lugo yang baru berusia sehari sudah langsung digoyang oleh para kapitalis, dengan cara menimbun BBM yang mengakibatkan barang vital itu menghilang dari pasar. Obat-obatan juga raib dari rak-rak apotik. Ini bisa menimbulkan krisis.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>sumber : AP/AFP/Kompas</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">==================================================================</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:center;"><strong>www.ayomerdeka.wordpress.com</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Papst Benedikt XVI. verurteilt jede Form von Rassismus und Intoleranz]]></title>
<link>http://deislam.wordpress.com/2008/08/19/papst-benedikt-xvi-verurteilt-jede-form-von-rassismus-und-intoleranz/</link>
<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 15:58:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>deislam</dc:creator>
<guid>http://deislam.hu.wordpress.com/2008/08/19/papst-benedikt-xvi-verurteilt-jede-form-von-rassismus-und-intoleranz/</guid>
<description><![CDATA[Zitat aus Radio Vatikan (kna 17.08.2008 mc):
Papst Benedikt XVI. hat jede Form von Rassismus und Int]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Zitat aus <a href="http://www.radiovaticana.org/ted/Articolo.asp?c=225115">Radio Vatikan (kna 17.08.2008 mc)</a>:</p>
<blockquote><p>Papst Benedikt XVI. hat <strong>jede Form von Rassismus und Intoleranz</strong> verurteilt. Gerade die Kirche als universale Gemeinschaft aus Menschen aller Rassen und Kulturen habe eine besondere Verantwortung für die Menschheitsfamilie, sagte er am Sonntag bei seinem Angelus-Gebet in Castelgandolfo. Sie müsse «ein gastliches <strong>Haus für alle</strong>» sein, betonte er unter Hinweis auf das Sonntagsevangelium. Leider gebe es in verschiedenen Ländern neue besorgniserregende Formen von Rassismus, fügte der Papst hinzu. Sie hätten oft soziale oder wirtschaftliche Ursachen, die jedoch "niemals eine rassistische Missachtung <strong>oder Diskriminierung</strong> rechtfertigen dürfen". Benedikt XVI. appellierte an die Gläubigen, sich <strong>gegen jeden Trend zu Rassismus, Intoleranz und Aussperrung</strong> von Menschen zur Wehr zu setzen. Die Überwindung des Rassismus gehöre zu den großen Errungenschaften der Menschheit.</p></blockquote>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Unser Kommentar:</strong></span><br />
Der Papst verurteilt also <strong><span style="text-decoration:underline;">jede</span> Form</strong> von Rassismus <strong>und Intoleranz</strong>! Was <strong>heute</strong> aber unter "Rassismus" alles verstanden wird, erhellt aus dem einschlägigen <a href="http://de.wikipedia.org/wiki/Rassismus">Wikipedia-Artikel</a>. Man führe sich diesen vorab zu Gemüte! Selbstverständlich sind wahre Christen <strong>gegen den eigentlichen Rassismus</strong>, also "Menschenrasse" (Hautfarbe), völkische Abstammung, etc. Die Kirche nimmt unterschiedslos ALLE auf; für sie ist jede Menschenseele, die sich zu Christus und zu ihr bekennt, ungeachtet ihrer Herkunft, gleichwertig, gleichwürdig. In diesem Sinne ist sie ein "Haus für alle". Aber der Papst macht einen schwerwiegenden Fehler, wenn er <strong>nicht differenziert</strong>. Wenn die Kirche <strong>gegen <span style="text-decoration:underline;">jede</span> Form von Intoleranz und Diskriminierung</strong> ist, dann kann sie ihrer Sendung nicht mehr gerecht werden. Schon der Begriff "Ecclesia" beinhaltet eine schwerwiegende Diskriminierung. Es finden nicht alle Menschen in ihr Platz. Nur wer ihr "Credo" aufrichtigen Herzens spricht, kann zu ihr gehören. Alle anderen sind ausgeschlossen, "<strong>ausgesperrt</strong>"! Wenn wir Christen sein wollen, haben wir gar keine andere Wahl als (unter anderem auch) diskriminierend und intolerant zu sein, nämlich intolerant gegen alles Wider-Göttliche, Anti-Christliche, Un-Heilige, und diskriminierend gegenüber allem Sündhaften, Schlechten, Bösen. Wer sich aber so, wie hier der Papst, zum Anwalt derjenigen macht, die vorgeblich gegen den "Rassismus" kämpfen, in Wirklichkeit aber allzuoft berechtigte, ja unbedingt nötige, heilsame KRITIK mittels der inzwischen ins Kraut geschossenen Anti-"Rassismus"-Gesetze ersticken und verunmöglichen, der arbeitet, wirkt nicht <span style="text-decoration:underline;">für</span> das Reich Gottes, sondern <span style="text-decoration:underline;">GEGEN</span> es.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Die beste Religion]]></title>
<link>http://wangenroth.wordpress.com/?p=132</link>
<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 23:20:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hubert Wangenroth</dc:creator>
<guid>http://wangenroth.hu.wordpress.com/2008/08/17/die-beste-religion/</guid>
<description><![CDATA[Ich spreche über Religionen, ob sie gut für Frauen sind. (Eine gewinnt auch.) Man muß nämlich im]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ich spreche über Religionen, ob sie gut für Frauen sind. (Eine gewinnt auch.) Man muß nämlich immer politisch korrekt sein! Und ich rette auch etwas Schönes, es ist diesmal ein Kippelbild von Jesus, das ich in Rom (direkt beim Papst) gekauft habe.</p>
<p><a href="http://wangenroth.podspot.de/files/wangenroth_19.mp3">Laden </a></p>
<p>[audio http://wangenroth.podspot.de/files/wangenroth_19.mp3]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vatikan: Anweisung zum Gottesnamen]]></title>
<link>http://deislam.wordpress.com/2008/08/14/vatikan-anweisung-zum-gottesnamen/</link>
<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 17:52:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>deislam</dc:creator>
<guid>http://deislam.hu.wordpress.com/2008/08/14/vatikan-anweisung-zum-gottesnamen/</guid>
<description><![CDATA[Der Gottesname „Jahwe“ darf nicht mehr in der Liturgie verwendet werden. Dieses Anliegen aus dem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Der Gottesname „Jahwe“ darf nicht mehr in der Liturgie verwendet werden.</strong> Dieses Anliegen aus dem Vatikan wurde jetzt durch den US-Bischof für Liturgiefragen, Arthur J. Serratelli bekannt. Die jüdische Tradition habe das Aussprechen des Gottesnamens immer schon aus Respekt vermieden, begründet der Vatikan die Anweisung. In der katholischen Tradition sei der Gottesname stets mit „Herr“ übersetzt worden. - Die vatikanischen „Direktiven zum Gebrauch des Gottesnamens in der Liturgie“ seien als Brief der Gottesdienstskongregation am 29. Juni an die Bischofskonferenzen aller Welt gerichtet, so Bischof Serratelli in einer Mitteilung an seine amerikanischen Mitbrüder.</p>
<p>(<a href="http://www.oecumene.radiovaticana.org/ted/Articolo.asp?c=224665">Radio Vatikan: cns 14.08.2008 mc</a>)</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Unser Kommentar:</span></strong><br />
Schon wieder eine ungeheuerliche, inakzeptable Konzession an die "älteren Glaubensbrüder", die offenbar nach und nach das Sagen haben bei der Spitze der katholischen Kirchenführerschaft, was künftig zugelassen, was toleriert wird und was nicht! (Siehe "Karfreitagsfürbitte"!) Ja, "die jüdische Tradition" hat das Aussprechen des Gottesnamens immer schon aus Respekt vermieden und deshalb als "JHWH" transskribiert. Aber nach derselben Logik schreiben heute die Juden in unserem Sprachraum anstelle von GOTT: <em>G'TT</em> oder <em>G-TT</em>. Aus Rücksicht auf sie müßten wir also in der Liturgie auch alle Vorkommen des Namens "GOTT" "judaisieren"!</p>
<p>Siehe dazu auch <a href="http://www.bibelwissenschaft.de/wibilex/das-bibellexikon/details/quelle/WIBI/zeichen/j/referenz/22127///cache/3c3fc4f443/" target="_blank">WiBiLex: Bibellexikon: Jahwe</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beweis: Klerus befürwortet elektrische Mückenklatsche! ]]></title>
<link>http://buchstaeblich.wordpress.com/?p=414</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 15:20:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>buchstaeblich</dc:creator>
<guid>http://buchstaeblich.hu.wordpress.com/2008/08/07/beweis-klerus-befurwortet-elektrische-muckenklatsche/</guid>
<description><![CDATA[Die Balkonistin wünscht sich passend zu der von ihr noch zu ordernden elektrischen Fliegenklatsche ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Die <a href="http://balkonistin.wordpress.com/2008/08/07/nicht-lustig/">Balkonistin</a> wünscht sich passend zu der von ihr noch zu ordernden elektrischen Fliegenklatsche ein fesches Tennisröckchen und bat mich um Hilfe hinsichtlich guter Bestelladressen.</p>
<p><!--more-->Statt einer solchen fand ich aber ein historisches Dokument, das beweist, dass die katholische Kirche offensichtlich die Benutzung von elektrischen Hilfsmitteln zur Beseitigung stechender Plagegeister nicht nur billigt, sondern sogar - wie von der offensichtlich prophetisch veranlagten Balkonistin - das Tennisröckchen als passende Bekleidung für das Abklatschen von Mücke &#38; Co. empfiehlt:</p>
[caption id="attachment_415" align="aligncenter" width="225" caption="Kirche empfiehlt elektrische Fliegenklatsche!"]<a href="http://buchstaeblich.wordpress.com/files/2008/08/heiligetennisklatsche.jpg"><img class="size-medium wp-image-415" src="http://buchstaeblich.wordpress.com/files/2008/08/heiligetennisklatsche.jpg?w=225" alt="Kirche empfiehlt elektrische Fliegenklatsche" width="225" height="300" /></a>[/caption]
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Die Vatikan-Verschwörung - Kai Meyer]]></title>
<link>http://annemirl.wordpress.com/?p=283</link>
<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 06:54:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>annemirl</dc:creator>
<guid>http://annemirl.hu.wordpress.com/2008/08/04/die-vatikan-verschworung-kai-meyer/</guid>
<description><![CDATA[
Verlag: Heyne
Erschienen: Dez. 2005
Seiten: 446
ISBN: 3453431561

Kurzbeschreibung
Rätselhafte Mor]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="bText">
<p><strong>Verlag: Heyne<br />
Erschienen: Dez. 2005<br />
Seiten: 446<br />
ISBN: 3453431561</strong></p>
<p><a href="http://imageshack.us/"><img src="http://img512.imageshack.us/img512/728/dievatikanverschwrungav8.jpg" border="0" alt="Image Hosted by ImageShack.us" /></a></p>
<p>Kurzbeschreibung<br />
Rätselhafte Morde im Vatikan. Der Kunstdetektiv Jupiter stößt in Rom auf die Spur des geheimnisumwitterten Kupferstechers Piranesi. Rätselhafte Morde und unheimliche Erscheinungen führen ihn zum legendären Haus des Daedalus, einem vergessenen Ort tief unter den Fundamenten der Stadt. Verbirgt sich dahinter die Hölle selbst, wie ein vatikanischer Geheimbund vermutet?</p>
<p>Meine Meinung:<br />
An Spannung ist dieses Buch kaum zu überbieten und auch eine ordentliche Portion Sarkasmus fehlt -zum Glück- nicht. Kai Meyers Schreibstil ist wirklich einzigartig! Ich war von Anfang an in der geheimnisvollen Geschichte gefangen und mochte das Buch nicht mehr aus der Hand legen! <img src="http://ec1.images-amazon.com/images/G/03/x-locale/common/customer-reviews/stars-5-0.gif" border="0" alt="" width="64" height="12" /></div>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
